18 Desember 2016

18 Desember 2016

Pada minggu ini di kebaktian BICF IC yang merupakan gereja Indonesia di Beijing mengangkat tema “Iman yang Istimewa” yang diambil dari Matius 8:5-13

Apa arti iman yang selama ini kita percayai? Sangat penting untuk lebih dalam lagi memahami hal ini dan juga tentang siapa Yesus dalam segala kemuliaan dan kuasa Nya.

Perwira Roma adalah tulang punggung daripada Roma sendiri. Dia memiliki kualitas karakter yang sangat baik sekali. Dari dia kita belajar banyak tentang bagaimana menjadi orang Kristen yang sesungguhnya. Yesus berkata, “Iman seperti ini tidak pernah Aku jumpai di antara orang Israel”.

Hal ini bisa membuat orang lain benci, iri hati, karena orang lain bisa mengira mereka dituduh kurang beriman.

Ada apa dengan perwira ini sehingga Yesus mengatakan hal itu? Perwira itu berkata, “Katakan saja sepatah kata maka hambaku akan sembuh”. Ini adalah satu tanda iman yang baik. Tetapi bukan ini alasan nya.

Perwira ini bukanlah orang Israel tetapi dia memiliki iman yang penuh kasih dan bukan iman yang egois. Dia sangat peduli dengan pembantu nya, dengan hamba nya. Budak bukanlah orang istimewa pada zaman itu. Asal ada uang, ada budak. Budak itu seperti barang. Mungkin saja kita suka dengan hape atau mobil kita. Tapi tidak seperti perwira itu yang begitu mengasihi budak nya, mengkhawatirkan budak nya. Sangat jarang ada orang yang peduli kepada budak. Ada beberapa orang yang bahkan memukul budak nya sampai mati. Perwira ini tidak sama dengan orang lain. Dia adalah orang yang sangat, sangat mengasihi.

Kamar pembantu Ahok ada AC, ada TV, sama seperti kamar tuan rumah nya. Ahok mirip dengan perwira Roma itu. Jarang sekali karakter seperti ini kita jumpai. Yang banyak terjadi adalah kita memandang pembantu kita sebagai lebih rendah. Kalau kita benar beriman kita harus tahu bahwa iman kita bukan iman yang egois.

Kita juga harus tahu bahwa iman kita harus memampukan kita untuk mengasihi orang yang kita benci. Orang Roma sebenar nya muak dengan orang Yahudi. Bagaimana mengasihi orang orang yang egois, yang mau menang sendiri, yang jahat? Kita harus punya iman yang memampukan kita melakukan itu. Kita bisa karena kita punya Yesus. Yesus datang untuk orang orang yang tidak layak dikasihi. Perwira ini mengasihi orang Yahudi bukan cuma sekedar di bibir saja. Dia benar benar mengasihi meski banyak alasan untuk dia membenci orang Yahudi. Bukankah jaman sekarang ini juga banyak orang Kristen seperti orang Yahudi? Berpandangan picik, sempit dan sombong. Ada apa dengan orang Kristen? Jika kita termasuk Kristen yang sombong, picik, sempit, maka kita bukan termasuk orang yang berkenan kepada Allah.

Apakah hakikat dari iman percaya kita? Banyak orang Kristen yang merasa tidak aman jika mereka masuk ke dalam lingkungan orang tidak percaya. Takut kehilangan iman jika berada dalam lingkungan itu. Jika kita berkata aku orang terpilih, bukankah ironis jika kita takut sekali kehilangan iman?

Kita tidak perlu merasa tidak nyaman di tengah orang berdosa. Jika kita merasa begitu, iman kita belum kuat betul. Memang, jika kita belum kuat betul maka kita tidak boleh sengaja mencari percobaan. Kita perlu hadir di tengah tengah orang tidak percaya tetapi kita tidak boleh ikut ikutan dengan tabiat orang tidak percaya. Tetapi jangan sampai kita jadi tergoda, ikut dengan kebiasaan orang tidak percaya.

Tidak banyak orang Roma yang mengasihi Yesus. Tetapi perwira Roma ini mengasihi. Perwira ini melihat Yesus sebagai seorang Atasan. Yesus hanya perlu mengeluarkan perintah dan segala sesuatu taat. Darimana orang Roma ini mendapat iman seperti itu? Dia adalah orang asing, bukan orang Israel, bukan orang Kristen.  Iman perwira ini nyata.

Iman yang nyata adalah kesaksian yang penuh kuasa. Allah mengerjakan karya Nya yang dahsyat melalui iman yang seperti ini.

Jika kita sudah jadi orang Kristen, hidup kita harus diubahkan, menjadi baru. Jangan tetap suka bertengkar, suka iri hati, suka seks bebas. Iman yang tidak nyata akan menjerumuskan kita masuk neraka. Jika kita tidak memiliki iman yang nyata, kita akan dicampakkan keluar. Kita harus cari Tuhan dengan sungguh sungguh. Iman bukan sekedar iman, percaya bukan sekadar percaya.

Comments are closed.