1 Januari 2016

1 Januari 2016

Pada minggu ini di kebaktian BICF IC yang merupakan gereja Indonesia di Beijing mengangkat tema “Barnabas Si Pemberi Semangat” yang diambil dari Kisah Para Rasul 4:36; 11:22-24

Dari Kisah Para Rasul 4, kita mendapati bahwa Barnabas bukan nama sebenarnya tapi julukan yang artinya si pemberi semangat.

Orang orang Yahudi punya banyak julukan. Ada orang yang disebut si Anak Tukang Kayu, Sahabat Orang Berdosa, yang tak lain adalah Yesus.

Nama sebenar nya dari Barnabas adalah Yusuf. Siapakah sebenarnya Barnabas ini? Dia adalah seorang yang dekat dengan para rasul. Dia bukan rasul. Dia seorang Lewi, seorang Yahudi. Dia golongan imam. Seorang yang tinggal di Cyprus. Dia seorang yang murah hati, memberi hartanya untuk para rasul. Dia orang yang penuh kepedulian. Penuh belas kasihan. Dia anak penghiburan. Orang yang selalu memberikan semangat.

Di mana Cyprus? Di dekat laut tengah. Pulau kecil.

 

3 Bukti bahwa mengayomi adalah pola hidup Barnabas:

  1. Ia mengayomi seorang yang dipandang secara skeptis oleh komunitas iman kepada waktu itu (Barnabas mempercayai Paulus sungguh bertobat, walaupun semua orang belum percaya).
  1. Ia memberikan dorongan kepada gereja muda. Itu sebabnya ia pergi ke Anthiokia, ketika ia mendengar kabar bahwa di tempat itu telah terjadi kebangun rohani.
  1. Ia memberi dorongan kepada seorang pemuda yang gagal. Barnabas memberi dorongan kepada Yohanes Markus, seorang pemuda yang gagal dan yang nyaris akan disingkirkan dari pelayanan.

 

Kita banyak merasakan anugerah Tuhan tapi apakah kita juga membagi anugerah Tuhan itu ke orang lain? Seringkali gereja hanya bisa menghakimi. Kalau ada orang yang gagal, orang tersebut dilarang melayani. Pertanyaan nya. Apakah gereja juga mendampingi orang orang yang gagal, yang dianggap tidak layak? Seringkali gereja lebih gampang menunjuk daripada mendampingi.

Satu kali di Amerika terjadi kasus, anak dijual untuk disetubuhi pria dewasa. Anak usia tiga tahun. Orang itu tertangkap. Alasan dia menjual adalah dia butuh uang. Kenapa dia tidak jual diri sendiri? Karena tidak ada orang yang mau dirinya. Jadi, kenapa tidak minta tolong gereja? Wanita itu terdiam sejenak. Lalu dia berkata, “Gereja tidak bisa membuat apa-apa kecuali satu hal. Membuat saya semakin merasa berdosa, tidak lebih dari itu.”

Saat Yesus berkumpul dengan pendosa, pemungut cukai, apa yang Dia katakan? Apa yang yesus lakukan? Dia hanya mengatakan,” Ikutilah Aku”. Tidak lebih, tidak kurang. Artinya, kalau kamu mau berubah, Aku tidak paksa kamu, kamu lihat kehidupan Ku, dan berubah lah. Lihat Aku dulu, baru kamu berubah. Hari ini tidak. Orang yang bisa ke gereja, yang bisa melayani, harus nampak suci dulu baru engkau bisa melayani Tuhan. Hari ini kita perlu hati hati. Jangan jangan kita kehilangan anugerah.

Jadi orang sembarangan boleh naik ke mimbar? Boleh melayani? Harus dipikir dengan bijak. Jangan sampai kita menghakimi saja tanpa memberi kesempatan pada orang berdosa.

Beberapa orang bilang kenapa di gereja kamu tidak bisa terbuka tapi di club bisa terbuka? Orang bisa bebas ngomong, tidak ada yang menghakimi. Kita kehilangan anugerah.

Di tahun yang baru, marilah kita lebih mendampingi. Lebih sedikit menghakimi. Lebih banyak mendoakan supaya Tuhan menyentuh hati mereka, kita jangan hanya menghakimi mereka.

Comments are closed.