25 Desember 2016

25 Desember 2016

Pada minggu ini di kebaktian BICF IC yang merupakan gereja Indonesia di Beijing mengangkat tema “Perfect Gift in Imperfect Situation” yang diambil dari Matius 2:1-12

Siapa yang seharusnya berjumpa dengan mesias? Orang Yahudi. Mereka punya janji itu. Tetapi justru orang majus yang pertama kali bertemu dengan mereka. Ironis sekali.

Bukan kebetulan kalau kisah ini ada di injil Matius.

Orang majus adalah orang kafir. Kenapa justru orang kafir yang berjumpa dengan mesias? Karena orang Yahudi tahu tetapi tidak rindu.

Apa hasil dari keterkejutan orang Yahudi akan kedatangan mesias? Tidak ada. Tidak ada respon dari orang Yahudi. Hanya Herodes yang memberi respon. Kenapa? Karena hanya Herodes yang berkepentingan.

Herodes adalah raja yang ganas tetapi takut istrinya akan membunuh dia dan menggantikan nya jadi raja, sehingga dia bunuh istrinya, demikian juga anak dan mertua nya.

Kalau kita suka seseorang, tapi tidak diucapkan, apa ada hasilnya? Kalau hanya dibatin saja, apa ada? Tidak ada. Orang majus tidak demikian. Mereka bukan hanya rindu tetapi juga mau. Mereka bertindak.

Sebenarnya keputusan orang majus kurang bijak. Apa sih kebutuhan mereka bertemu dengan mesias? Mesias bukan keponakan, sepupu dan kalaupun Raja, bukanlah Raja mereka.

Ekspedisi orang majus juga adalah ekspedisi berbahaya. Banyak orang yang mengikuti ekspedisi itu, sehingga kedatangan mereka menggemparkan orang Yerusalem. Bukan tiga saja. Ekspedisi ini juga butuh modal. Alkitab katakan mereka dari Timur. Ada yang bilang mereka dari India, tapi ada juga yang bilang dari Arab dan Tiongkok. Tetapi kebanyakan penafsir berkata mereka dari Babylonia dan Persia (Irak di jaman sekarang). Jarak Babylonia – Yerusalem kurang lebih 1500 km. Naik unta.

Kemungkinan mereka akan sampai ke Yerusalem dalam waktu 2 hari asal tidak istirahat sama sekali, tidak ada hambatan, dan kecepatan harus konstan, tidak boleh loyo. Jadi salah kalau kita berpikir bahwa orang majus berjumpa dengan Mesias di kandang. Yang benar di rumah. Perjalanan nya adalah selama 40 hari, bukan dua hari.

Yang luar biasa adalah mereka tidak membatalkan ekspedisi mereka. Mereka tetap terus. Inilah bedanya dengan orang Yahudi. Mereka sungguh rindu, mau dan bertindak.

Di dalam Tuhan sepertinya kita tidak bebas, ini tidak boleh, itu tidak boleh, tetapi sebenarnya itu lah kebebasan yang sejati. Seperti ikan di akuarium. Dia akan mati begitu keluar dari akuarium. Hanya terbatas di dalam akuarium lah dia bebas hidup.

Kenapa natal sering terasa hambar. Karena natal sering jadi pesta mu dan pesta ku. Ada tidak ada Yesus tidak penting, yang penting kita senang. Karena kita kurang menyadari kecelakaan kita.

Kita harus sadar betapa kita membutuhkan Tuhan dalam hidup kita.

Comments are closed.